Advertisement

 


Ketua Yayasan Al-Fattah Bekali Wisudawan dengan Empat Amanah Ilmu

KH. Hammam Fathulloh HB., M.Pd., dalam sambutannya mengingatkan kembali pesan almarhum KH. Burhan yang kerap disampaikan setiap momentum wisuda, Selasa, (06/10/2026)

PACITAN | Arvatra — Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-6 STAI Al-Fattah Pacitan Tahun 2026 tidak hanya menjadi momentum pengukuhan gelar akademik, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan pesan moral bagi para lulusan sebelum kembali ke tengah masyarakat.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil Arjosari Pacitan, KH. Hammam Fathulloh HB., M.Pd., dalam sambutannya mengingatkan kembali pesan almarhum KH. Burhan yang kerap disampaikan setiap momentum wisuda, baik kepada mutakharij Pondok Pesantren Al-Fattah maupun lulusan STAI Al-Fattah.

Menurut KH. Hammam, terdapat empat amanah penting yang harus dijaga para lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.

Pertama, menguasai ilmu dan pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan secara kafah, benar dan bertanggung jawab. Penguasaan ilmu tersebut, menurutnya, harus disertai pemahaman terhadap sanad keilmuan yang jelas.

“Bagi kami dan panjenengan semua, setelah menjadi lulusan sebuah lembaga pendidikan, khususnya di STAI Al-Fattah Pacitan, ada empat amanah yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan, pesantren Al-Fattah Kikil memiliki akar keilmuan yang kuat karena lahir dari tradisi pesantren besar dan sepuh, yakni Perguruan Islam Pondok Tremas. Karena itu, para lulusan diharapkan mampu menjaga kesinambungan tradisi keilmuan tersebut.

Kedua, membangun karakter. Para wisudawan diminta tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter diri sebagai lulusan pesantren dan STAI Al-Fattah ketika berada di tengah masyarakat.

“Panjenengan semua harus mampu membangun karakter di masyarakat, karakter diri sebagai seorang mutakharij pesantren, sebagai lulusan STAI Al-Fattah dan sebagai pribadi yang mengemban ilmu pengetahuan,” pesannya.

Ketiga, menyampaikan ilmu kepada masyarakat. KH. Hammam mengingatkan bahwa ilmu memiliki kewajiban untuk ditunaikan sebagaimana harta memiliki kewajiban zakat. Menurutnya, zakat ilmu adalah menyampaikan dan mengamalkannya untuk kemaslahatan masyarakat.

“Ilmu itu juga menuntut zakatnya. Zakat ilmu yaitu nasyrul ilmi, menyampaikannya,” tegasnya.

Ia berharap ilmu yang disampaikan para lulusan kelak menjadi ilmu yang nafi'ah, penuh keberkahan dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Sedangkan amanah keempat adalah menghadirkan hikmah. Para lulusan diharapkan mampu menjadikan ilmu yang dimiliki sebagai jalan untuk membantu masyarakat bersikap arif dan bijaksana dalam menghadapi dinamika kehidupan.

“Wal-hikmah, mampu membuat masyarakat sekitar, manusia yang lain menjadi arif dan bijaksana dalam memandang dinamika kehidupan. Tentu melalui ilmu pengetahuan ini,” ungkapnya.

Keempat amanah tersebut, lanjut KH. Hammam, pada akhirnya bermuara pada satu tujuan utama, yakni menjadikan kehadiran para lulusan sebagai manusia yang bermanfaat.

Ia menegaskan, kemanfaatan di tengah masyarakat bukan sekadar ukuran keberhasilan seorang lulusan, tetapi juga dapat menjadi amal jariyah yang kelak menjadi bekal menghadap Allah SWT.

“Kehadiran kita semua harus menjadi manfaat. Kemanfaatan kita di tengah-tengah masyarakat itulah nanti yang menjadi amal jariyah panjenengan sami, dan insyaallah menjadi bekal kita sowan ke hadirat Allah SWT,” tuturnya.

Di penghujung sambutannya, KH. Hammam menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan-wisudawati STAI Al-Fattah Pacitan angkatan ke-6. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran yang telah mendukung terselenggaranya pendidikan dan prosesi wisuda.

Ia berharap Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil, khususnya STAI Al-Fattah Pacitan, terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi pendidikan serta masyarakat.

“Semoga Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil, wabil khusus STAI Al-Fattah Pacitan, tambah dangu tambah ngremboko, li i'la'i kalimatillah,” pungkasnya.

Wisuda ke-6 STAI Al-Fattah Pacitan pun menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Di balik pengukuhan gelar sarjana, para lulusan menerima pesan tentang ilmu, karakter, penyebaran ilmu dan hikmah—empat bekal yang diharapkan mampu mereka bawa dalam perjalanan pengabdian di tengah masyarakat. (Red.)

Posting Komentar

0 Komentar