![]() |
| Foto Dokumentasi lokasi pabrik tahu yang diduga pemicu bau tak sedap. Diwilayah mentoro Pacitan |
PACITAN | Arvatra – Bau tak sedap yang menyengat di sepanjang ruas Jalan Pacitan–Tulakan, tepatnya dari kawasan SPBU Purworejo hingga tanjakan Mentoro, mulai menjadi keluhan warga dan pengguna jalan. Dugaan mengarah pada limbah produksi pabrik tahu di wilayah Desa Mentoro, Kabupaten Pacitan. Namun, sumber bau tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan instansi berwenang.
Persoalan ini bukan sekadar soal hidung yang terganggu. Ketika bau menyengat tercium di jalur yang setiap hari dilalui masyarakat, pertanyaan mendasar muncul: bagaimana pengelolaan limbah usaha di kawasan tersebut, dan sejauh mana pengawasan lingkungan dijalankan?
Pabrik tahu yang telah lama beroperasi semestinya tidak hanya dituntut menghasilkan produk dan keuntungan, tetapi juga bertanggung jawab atas dampak kegiatan produksinya terhadap lingkungan sekitar. Usaha boleh berjalan, ekonomi boleh tumbuh, tetapi kenyamanan masyarakat tidak seharusnya menjadi tumbal.
Jangan sampai keluhan warga hanya menjadi angin lalu. Bau yang terus dikeluhkan perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan, bukan sekadar dugaan atau saling menunggu. Dinas yang membidangi lingkungan hidup perlu turun langsung untuk menelusuri sumber bau, memeriksa sistem pengolahan limbah, serta memastikan apakah kegiatan usaha tersebut telah memenuhi ketentuan lingkungan.
Jika hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran, penanganan harus dilakukan secara tegas sesuai peraturan yang berlaku. Sebaliknya, jika sumber bau ternyata berasal dari faktor lain, hasil pemeriksaan perlu disampaikan secara terbuka agar persoalan tidak berkembang menjadi tudingan tanpa dasar.
Kritik terhadap persoalan ini bukan berarti menghakimi pelaku usaha. Namun, kepentingan ekonomi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan hak masyarakat atas lingkungan yang nyaman dan sehat. Pengawasan juga tidak semestinya baru bergerak setelah keluhan meluas.
Masyarakat berhak mendapatkan kepastian, bukan sekadar menebak-nebak dari mana bau menyengat itu berasal. Karena itu, langkah konkret dari instansi terkait sangat dibutuhkan untuk menjawab keluhan sekaligus mencegah persoalan serupa terus berulang.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola pabrik tahu maupun instansi terkait mengenai keluhan bau tersebut. Dugaan keterkaitan dengan limbah pabrik masih memerlukan pembuktian melalui penelusuran dan pengujian oleh pihak berwenang.
Kini, publik menunggu: apakah keluhan di jalur Pacitan–Tulakan akan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan nyata, atau kembali berhenti sebagai persoalan yang ramai dikeluhkan tetapi minim penyelesaian?


0 Komentar