PACITAN | Arvatra – Peningkatan kualitas pelayanan publik tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis. Karakter, disiplin, etika, loyalitas dan kepedulian menjadi fondasi penting bagi aparatur dalam menjalankan tugas melayani masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Kepala UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Pacitan, Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur, Ir. Budi Hari Santoso, ST., MT., saat memimpin apel pagi yang dilanjutkan briefing dan pengarahan kepada seluruh pegawai, Senin pagi.
Briefing diikuti unsur PNS, PPPK hingga tenaga outsourcing. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan rutin untuk membangun kesadaran bersama bahwa setiap pegawai memiliki peran dalam menentukan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Budi menegaskan, karakter dalam bekerja bukan sekadar persoalan hadir tepat waktu dan menyelesaikan rutinitas pekerjaan. Karakter juga menyangkut loyalitas, etos kerja, etika, peningkatan kinerja serta tanggung jawab terhadap tugas.
“Kesadaran karakter dalam bekerja itu sangat penting. Itu menjadi fundamental atau dasar dalam kita melaksanakan kegiatan sehari-hari, dalam pelayanan kepada masyarakat maupun memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara,” kata Budi.
Menurutnya, karakter yang terus dibangun melalui kedisiplinan dan kesadaran akan berkembang menjadi kepribadian. Dengan demikian, budaya kerja yang baik tidak semata-mata bergantung pada siapa yang menjadi pimpinan atau perubahan aturan organisasi.
“Kalau sudah terdidik dengan karakter, ada kedisiplinan, loyalitas, peningkatan kinerja, etos kerja dan etika kerja, itu akhirnya menjadi kepribadian,” jelasnya.
Pelayanan Jalan Harus Berujung pada Manfaat
Budi menilai tugas di bidang bina marga memiliki kaitan langsung dengan kepentingan masyarakat. Karena itu, kemampuan administrasi dan teknis harus berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.
Menurutnya, setiap pekerjaan yang dilakukan aparatur harus memiliki orientasi pada manfaat, bukan semata-mata menyelesaikan kewajiban administratif.
“Di dalamnya juga ada kepedulian secara administrasi, teknis dan kepedulian sosial. Itu linier dengan kecerdasan spiritual dan pendidikan agama yang mengajarkan bagaimana kita memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia mengingatkan prinsip khairunnas anfa'uhum linnas, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling memberikan manfaat bagi orang lain.
Nilai tersebut, kata Budi, relevan dengan posisi pegawai pemerintah sebagai abdi negara. Jabatan maupun status kepegawaian tidak seharusnya menjadi pembeda dalam memberikan pelayanan.
“Sebagai abdi negara, apapun posisi dan jabatannya, kita harus bisa memberikan manfaat yang banyak kepada masyarakat. Dengan begitu kita bisa memberikan kontribusi yang baik kepada bangsa dan negara,” tegasnya.
Ingin Tinggalkan Jejak Kepemimpinan yang Baik
Dalam kesempatan itu, Budi juga mengajak seluruh pegawai membangun hubungan kerja yang sehat tanpa membedakan status sosial maupun jabatan.
Seluruh unsur pegawai, menurutnya, merupakan bagian dari satu sistem yang memiliki tujuan sama, yakni memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Pesan tersebut menjadi semakin bermakna karena Budi mengungkapkan bahwa dirinya akan memasuki masa purna tugas pada tahun depan.
Ia berharap masa akhir kepemimpinannya dapat menjadi momentum untuk meninggalkan jejak positif bagi jajaran yang selama ini dipimpinnya.
“Tahun depan saya sudah purna tugas. Saya ingin happy ending, memberikan jejak-jejak yang baik kepada orang-orang yang saya pimpin, supaya ke depan bisa lebih baik, lebih maju, sukses dan berhasil,” tuturnya.
Bagi Budi, kepemimpinan bukan sekadar persoalan jabatan. Seorang pemimpin harus mampu meninggalkan nilai, keteladanan dan budaya kerja yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.
Budi Hari Santoso juga memiliki keterikatan dengan sejarah lokal Pacitan. Ia dikenal sebagai bagian dari trah Demang Kuranthil, salah satu tokoh yang memiliki jejak dalam sejarah lokal Pacitan.
Namun, latar belakang sejarah tersebut tidak semestinya berhenti sebagai identitas garis keturunan. Nilai pengabdian, keteladanan dan kemanfaatan bagi masyarakat justru menjadi pesan yang lebih penting untuk diwariskan.
Jalan dan Jembatan Adalah Urat Nadi Masyarakat
Sebab, jalan dan jembatan bukan sekadar konstruksi fisik. Infrastruktur tersebut menjadi urat nadi mobilitas masyarakat, distribusi barang, aktivitas ekonomi serta konektivitas antardaerah.
Karena itu, kualitas pelayanan UPT PJJ pada akhirnya akan diukur bukan hanya dari seberapa cepat pekerjaan diselesaikan, tetapi juga dari seberapa besar keberadaannya mampu memberikan rasa aman, nyaman dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di titik inilah karakter aparatur menjadi penting. Infrastruktur yang dikerjakan dengan kemampuan teknis harus ditopang integritas, tanggung jawab dan kepedulian agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Melalui pembinaan internal yang dilakukan secara berkala, UPT PJJ Pacitan berupaya membangun budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian pekerjaan, tetapi juga pada integritas, tanggung jawab dan kualitas pelayanan.
Sebab pada akhirnya, kualitas pelayanan publik tidak hanya terlihat dari apa yang dikerjakan, tetapi juga dari karakter orang-orang yang mengerjakannya.
(Red.)



0 Komentar