![]() |
| Foto Dokumentasi Prokopim Pacitan by Fb |
ARVATRA | PACITAN – Suasana khidmat dan penuh rasa syukur menyelimuti kawasan UPT Pelabuhan Perikanan Tamperan, Senin (15/6), saat ratusan nelayan bersama masyarakat pesisir mengikuti prosesi Tasyakuran Laut dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi wujud syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT sekaligus doa bersama untuk keselamatan para nelayan yang menggantungkan hidupnya dari laut.
Sejak pagi, masyarakat telah berkumpul di pelabuhan dengan membawa tumpeng dan berbagai hidangan sebagai simbol kebersamaan serta rasa terima kasih kepada Sang Pencipta. Lantunan doa dan dzikir yang dipanjatkan secara bersama-sama menciptakan suasana religius yang sarat makna, mengingatkan manusia akan besarnya kuasa Allah SWT atas kehidupan dan alam semesta.
Wakil Bupati Pacitan, Gagarin Sumrambah, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa Tasyakuran Laut bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan perpaduan antara nilai spiritual, budaya, dan pelestarian lingkungan yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat nelayan Pacitan.
“Tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Laut telah menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir, sehingga sudah sepatutnya kita menjaganya dan memanfaatkannya secara bijaksana,” ujar Gagarin.
Momentum pergantian tahun Hijriah, lanjutnya, juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri agar kehidupan ke depan menjadi lebih baik. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kelestarian laut dan menghindari praktik penangkapan ikan yang merusak ekosistem.
Pacitan sendiri memiliki potensi kelautan yang besar dengan garis pantai yang membentang di sejumlah wilayah pesisir. Kekayaan sumber daya laut tersebut menjadi anugerah yang harus dijaga demi keberlanjutan generasi mendatang.
Nuansa sakral semakin terasa ketika Pengasuh Pondok Pesantren Tremas, KH Luqman Haris Dimyati, menyampaikan mauidhoh hasanah yang berisi ajakan untuk memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, serta meningkatkan rasa syukur dalam setiap aspek kehidupan. Tausiyah tersebut disimak dengan penuh khidmat oleh para nelayan dan masyarakat yang hadir.
Sesepuh nelayan Tamperan, Imam Haryono, menegaskan bahwa Tasyakuran Laut merupakan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur dan harus terus dijaga keberadaannya.
“Perubahan zaman tidak bisa dihindari, tetapi tradisi yang baik jangan sampai hilang. Ini adalah warisan leluhur yang mengajarkan kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam,” tuturnya.
Puncak acara ditandai dengan arak-arakan tumpeng menuju bibir pantai. Dengan iringan doa, para nelayan kemudian melaksanakan prosesi larung sebagai simbol penyerahan diri kepada Allah SWT serta harapan agar hasil laut tetap melimpah, cuaca bersahabat, dan para nelayan senantiasa diberi keselamatan saat melaut.
Tasyakuran Laut menjadi salah satu rangkaian Festival Nelayan 2026 yang digelar dalam menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H. Selain prosesi tasyakuran, festival juga dimeriahkan dengan pengajian akbar dan bakar ikan massal yang melibatkan masyarakat pesisir.
Melalui tradisi yang sarat nilai spiritual dan budaya ini, masyarakat nelayan Tamperan tidak hanya merawat warisan leluhur, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan keimanan. Di tengah arus modernisasi, Tasyakuran Laut tetap menjadi pengingat bahwa keberkahan hidup berawal dari rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan. (Red.)


0 Komentar